Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2011

Menjelajahi Sumatera Utara

Gambar
Pemandangan Danau Toba/Foto Istimewa Selasa, (22-29/11) saya Satriani M bersama Firmansa dan Icha Dian Nurcahyani selaku kru PK identitas menjadi delegasi untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTL) Salam Ulos 2010. Kegiatan ini diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara USU Medan, Universitas Sumatera Utara. Tidak hanya pelatihan, kami juga diajak menikmati eksotik kota Medan di malam hari dan melakukan jelajah wisata sepanjang Sumatera Utara.          Pada hari kedua kegiatanSeminggu dalam Jurnalisme Profesional (Salam Ulos) yang bertema Jurnalisme Damai “Tidak Hanya Menuliskan, tapi Juga Mendamaikan” di Medan, para peserta yang datang dari berbagai LPM se-Indonesia diberi kesempatan berkeliling menikmati keindahan kota pada malam hari. Malam itu kami mendatangi tempat-tempat bersejarah di kota Medan. Salah satunya adalah mesjid Raya Al-Mahsum. Dahulu, mesjid ini me

Adamku

Gambar
Suaranya agak parau, juga terkadang tenggelam karena jaringan telepon genggamku agak terganggu. Malam itu, 4 Januari 2011 dini hari. Saat semua orang di samping kamarku terlelap dengan mimpinya. Aku sesak dengan tingkahnya beberapa minggu belakangan. Dia begitu memperhatikannku. Bukan sekedar perhatian, tapi perlindungan, simpati, bahkan tingkah sayang darinya membuatku bingung bahkan GR. Maka aku nekatku bertanya malam itu, lebih lagi perhatian sahabat-sahabatku padaku. Mereka bertanya tetang aku dan dia. Tapi sungguh diriku tak bermaksud mendesaknya. Akhirnya, via telepon genggam dia bercerita panjang lebar tetang setahun belakangan. Tentang tindakannya padaku setahun terakhir. Aku pun mencoba mereview kembali setiap moment dari mulutnya itu. Ujungnya, malam itu dia menjadi Adamku. "Kalau pacaran membawa kita ke arah sana terserah kamu, mau jalan atau tidak. Saya sudah biasa bersabar setahun ini, bukannya pasrah, cuma saya percaya dengan takdir," " Maukah kamu sep

Untuk Adamku

Gambar
hi, adam yang baik hatinya... apa kamu sudah menimbang keputusanmu hi, adam yang tulus jiwanya... apa kamu sudah siap membelah jiwamu sungguh jika benar kau menyebutku hawamu hawa ini masih ragu...

Indonesia Butuh Pemimpin Yang Tegas

Gambar
Sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), kita dituntut untuk berdiri di barisan depan membela kepentingan masyarakat. Disisi lain ada pula benturan kepentingan politik dan pribadi, hal ini yang terkadang membuat kita kehilangan nilai-nilai moral sebagai seorang manusia. Berikut petikan wawancara Satriani dari identitas dengan La Ode Ida, anggota DPR RI, diselah acara Seminar “Bicara tentang Akar Demokrasi Indonesia”, Selasa (31/8) lalu 1.Berbicara tentang politik di Indonesia, bagaimana anda melihat perpolitikan yang seharusnya? Seharusnya politik itu didasari oleh nilai-nilai moral, nilai religius yang berorientasi pada rakyat, politik itu bekerja bukan untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain yaitu rakyat. 2.Jika seperti itu, bagaimana anda melihat realitanya saat ini di Indonesia? Politik Indonesia sekarang lebih menitikberatkan pada kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Sikap seperti ini yang dimiliki sebagian anggota dewan, mereka bekerja untuk mengejar pangkat d

Mengangkat Periode Sastra 50-an

Gambar
“Saya merasa sejarah sastra itu tidak adil karena menghilangkan penulisan sejarah sastra 50-an” Berbicara tentang sejarah sastra di Indonesia, berarti akan membahas hasil karya sastra. Karena untuk mengetahui perkembangan sejarah sastra maka yang dikaji adalah karya-karyanya. Beberapa sastrawan di Indonesia pun membuat buku yang salah satu tujuannya mencatat sejarah perkembangan sastra di Indonesia. Seperti HB Jassin, Ajib Rosidi, Supradopo, Bakri Siregar, Joko Padopo dll. Jika membaca buku Intisari Sejarah Sastra karangan HB Jassin, atau buku Sejarah Sastra karya Ajib Rosidi dan buku yang berbicara tentang sejarah sastra lainnya, kebanyakan akan muncul pembahasan periode sastra abad ke-19. Seperti Periode 20-an atau biasa disebut angkatan bakai pustaka, periode 30-an disebut angkatan pujangga baru, periode 40-an disebut angkatan 45, periode 60-an disebut angkatan 66.