Sabtu, 21 November 2015

Antara Ibu dan Pengantinku

Foto:internet


Antara Ibu dan Pengantinku
Oleh Satriani Mulyadi

Nuri Puan Marwani, anak tunggal pemilik hotel NPM sebuah tempat termegah di ibu kota negeri ini akan melansungkan pernikahan. Seantero negeri harus tahu kabar itu, Nuri telah mengumumkan waktu pernikahannya di media-media besar. Mudah saja baginya, tinggal menghubungi relasi papanya setiap orang akan senang hati mengabulkan keinginannya. Ia telah bertekad akan memutuskan sendiri tetek bengek resepsinya. Semakin dekat, dirinya kian sibuk. Tak jarang Ram harus meninggalkan pekerjaannya demi menemani calon pengantinnya itu. Ramadhani Ram, CEO NPM akan menjadi pendamping Nuri di hari resepsi.
Ram memutuskan memarkir mobilnya lalu menyusuri jalan setapak. Dirinya tergoda oleh aroma rumput di taman kota yang baru saja dibasuh hujan. Ia memilih berjalan kaki sekadar menikmati dingin hujan yang sendu. Tempat tujuannya tak begitu jauh di balik taman. Kakinya terhenti ketika menemukan kursi taman di bawah pohon Ki Hujan. Sesekali sisa hujan jatuh menyentuh rambutnya.  Ia duduk sejenak, pikirannya mengawan. Waktu pernikahannya tak kurang dari sebulan lagi namun dirinya masih diliputi gelisah. Latar belakang keluarga mereka terlampu berbeda. Nuri keluarga aristokrat, darah murni kental hasil persilangan sempurna sedang dirinya jauh dari itu. Di benak lainnya ada rasa bangga karena dirinya terpilih akan menikahi seorang putri. Yah, Nuri memilihnya.
Telepon genggamnya berbunyi, “Sayang, kamu sudah di mana?,” bahkan suara manja Nuri pun membuatnya segan.
“Iya, saya sudah dekat,” Ram menghela nafas panjang, lalu beranjak dari tempat duduknya. Ram berharap setidaknya pikirannya itu terbang bersama sisa hujan di dedaunan yang mulai menguap.
Di pojok kafe Nuri terlihat sibuk dengan buku catatannya. Sudah bisa ditebak apa yang sedang ditulis maupun dicoret, daftar kebutuhan resepsi yang sudah menghabiskan tiga buku catatan tebal. Ram menghampiri dan lansung mengambil kursi di depannya. Ia mengerutkan dahi melihat kekasihnya masih sibuk membolak-balikkan catatan. Tak lama kemudian telepon genggam Ram berbunyi, Ia beranjak meninggalkan meja. Melihat itu, Nuri mendongakkan kepalanya.
“Telepon dari siapa sampai saya tidak boleh dengar,” ujar Nuri ketus ketika Ram sudah kembali ke tempat duduknya.
“Dari Ummi, kita diajak makan malam di rumah. Kamu bisa kan?” harap Ram.
“Ram, kamu kan tahu hari ini kita akan mencoba gaun pengantin, kemudian mengecek cincin pernikahan sudah cocok atau belum, jadwal kita sangat padat. Waktu pernikahan kita sudah sangat dekat, tapi masih banyak yang perlu kita persiapkan. Kamu bisa ngerti kan?” Nuri berhenti sejenak menatap Ram. “Sayang, acara seperti itu bisa kita lakukan sesering mungkin kalau pesta kita sudah usai. Okey. Oh ya, kasi tahu orang tuamu dan adik-adikmu kalau saya sudah menyiapkan gaun untuk dipakai saat resepsi nanti.”
“Orang tuamu? Adik-adikmu?” Ada sedikit yang mengganjal di hati Ram mendengar ucapan Nuri. Namun Ia menepisnya, toh memang mereka belum resmi. Sebenarnya batinnya protes karena Nuri juga baru sekali berkunjung ke rumah orang tuanya, itu pun saat Ram meminta restu sehingga mau tak mau Nuri harus meluangkan waktu berkunjung ke rumah masa kecil Ram. Ia mengambil telpon genggamnya, lalu mengucapkan permintaan maaf karena tidak bisa memenuhi panggilan keluarganya. Di balik telepon terdengar keluarganya sangat kecewa. Raut wajah Ram jelas terlihat bingung bagaimana cara menjelaskan penolakannya, Ia menatap kekasihnya namun Nuri hanya mengangkat bahu sebagai tanda agar Ram memakluminya.
***
Sepanjang jalan tetamu di sambut patung unicorn putih berhias bunga menuju ruang resepsi. Ribuan bunga mawar putih mengiasi meja dan kursi tamu. Tiang-tiang dililit bunga merah muda. Lampu berwarna putih salju kemerlap-kemerlip bak bintang menghiasi langit-langit. Telinga dimanjakan lantunan suara emas Glen Fedly. Wajah artis papan atas juga bermunculan. Tentu saja para pejabat dan pengusaha turut hadir. Pesta ini dinobatkan sebagai pernikahan termegah sepanjang tahun 2015.
Nuri menggunakan gaun berwarna gading berbahan satin organza dihiasi bunga renda chantilly terselip berlian yang dijahit tangan. Aksen ekor gaun pengantin sepanjang tiga meter dan total tujuh petticoat yang terbuat dari kain tulle sepanjang sepuluh meter menjuntai layaknya sayap burung cenderawasih. Mahkota dan sepatunya sepadan bertahta berlian chaumet. Seirama dengan Nuri, Ram menggunakan jas putih gading celana hitam, diperindah dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Mereka bak putri dan pangeran. Konsep megah yang diinginkan Nuri hampir sempurna tanpa celah andaikan keluarga Ram tak mengacau benak Nuri.
Keluarga Ram datang agak telat. Gaun yang dikirimi Nuri untuk dipakai oleh orang tua dan kedua adik Ram sudah pas di badan mereka. Masalahnya terletak pada ibu Ram. Gaun atasan terbuka, ketat, dan agak transparan membuat Ibunya tak nyaman memakainya. Sudah berkali-kali dipasangkan dengan ini dan itu tetap saja masih jauh dari syar’i. Bahkan mereka sudah sempat di tengah perjalanan tetapi berbelok pulang untuk berganti pakaian.
“Abi, Ummi mesti gimana? Kalau Ummi tidak pakai gaun itu Nuri akan kecewa, kalau Ummi pakai baju itu Ummi takut Allah Bi,” suara Ibu Ram berat.
“Ya sudah, Ummi betul. Sebaiknya kita pakai pakain yang nyaman dan sesuai syar’i. Saya yakin anak kita akan ngerti,” akhirnya mereka membalikkan kendaraan kemudian mengganti pakaian yang lebih sederhana.
Ibu Ram cemas, tetap saja ada sedikit penyesalan tergurat di wajahnya. Ia mengerti betul pesta anak pertamanya ini akan dihadiri oleh tamu-tamu penting. Penampilan luar menjadi penilaian besar untuk membedakan status sosial orang-orang di pesta. Kemegahan ruangan membuat orang tua Ram sendiri canggung melangkahkan kaki. Namun melihat Ram di atas pelaminan, Ibunya menampik pandangan orang-orang sekitarnya. Ia berjalan ke atas pelaminan, Ram menyambut dan memeluk erat Ibunya.
Ibu Ram terharu, “anak Ummi sangat gagah,” bisikan doa-doa mengalir di mulutnya.
Sejak melihat keluarga Ram air muka Nuri sudah berubah, wajah yang awalnya penuh senyum kemenangan berubah seketika. Nuri menerima pelukan Ibu Ram tanpa mimik, seolah yang dipeluknya tak dikenal. Ram sempat menoleh melihat wajah Nuri, tapi si putri mengabaikannya.
“Ummi dan Abi berdiri di samping Ram biar semua orang tahu siapa yang melahirkan dan membesarkan Ram,” ucap Ram bangga, seketika rasa minder orang tuanya luluh. Dua adik Ram sudah mengambil tempat duduk khusus di bagian keluarga besar.
Nuri hilang kesabaran, Ia berbisik di telinga, “Ram, ibu ayahmu tidak cocok berdiri di situ, tidak sepadan. Apa kata orang nanti, di sini banyak media Ram. Lagian mengapa tidak pakai gaun yang saya beri.”
Darah di tubuh Ram tiba-tiba berdesir, tangannya gemetaran mendengar ucapan Nuri. Ia menarik nafas sangat dalam. Ibu Ram yang mendengar bisikan itu segera menjelaskan perkara yang terjadi, “maafkan Ummi Nak Nuri, tadi Ummi ganti soalnya….”
Nuri memotong, “Ram, suruh orang tuamu pergi dari ruang ini, duh saya malu Ram,” Nuri mengabaikan Ibu Ram, menatapnya pun tak sudih.
Ram dilema. Sampai saat ini dirinya mematuhi semua permintaan Nuri karena Ia tahu karakter Sang Putri tidak boleh dibantah. Namun mendengar ucapan Nuri membuatnya goyah. Ram menganggap Nuri agak keterlaluan kali ini. Mana mungkin Ia tega menyuru ibunya turun dari pelaminan apalagi mengusirnya dari pesta. Mata ibunya sudah berkaca-kaca, namun Ia melihat pula mata geram Nuri.
Batin Ram bergejolak. Diingatnya masa-masa kecilnya, hidup keluarga mereka sangat sederhana. Ayahnya pedagang beras di pasar. Jika sedang libur, Ia akan membantu ayahnya berjualan. Ia menyaksikan sendiri sang ayah sering memberi beras tambahan bagi orang-orang miskin yang hanya mampu membeli beras satu dua liter. Siang hari Ibu dan kedua adiknya akan datang membawa rantang. Mereka makan bersama, Ibunya selalu memberinya lauk tambahan di piringnya. Ram kecil nyengir. Ram selalu bangga memiliki orang tua sederhana berbudi luhur.
Lalu bagaimana dengan hari ini, keadaan ini. Ram mengepalkan tangannya, suaranya bergetar ketika menyuruh ayah dan ibunya turun dari pelaminan. Ibunya terisak-isak, bahkan ayah yang tak pernah dilihatnya menangis pun menitikkan air mata. Ram tak perlu mengulang kalimatnya, kedua orang tuanya sudah membalikkan badan.
Tak ada yang memperhatikan kejadian singkat itu. Nuri kembali melebarkan senyumnya lalu melingkarkan tangannya di lengan Ram. Belum sampai sepuluh langkah meninggalkan tangga, Ram melepaskan tangan Nuri  kemudian berjalan mengambil mikrofon. Satu dua tamu sempat menoleh ke arah pengantin pria.
“Ada yang mau membeli Abi dan Ummi saya?” ucap Ram. Para tamu lainnya hampir bersamaan berbalik ke arah pelaminan tempat Ram berdiri.
Langkah ayah dan ibunya kian berat, hanya istigfar yang mengalir deras di mulut mereka. “Maafkan dosa kami ya Allah,” Ibu Ram berbisik sambil memejam pelan matanya.
“Sekali lagi, saya lelang Abi dan Ummi saya, ada yang mau beli mereka masing-masing 1 miliar,” ucapnya lebih tegas. Hening. Ada yang mengerutkan kening, saling menatap, berhenti menyantap. Nuri hanya melongo melihat adegan di luar rencana itu.
Ram turun dari pelaminan menghampiri kedua orang tuanya. Ibu dan ayahnya sudah tidak berani berbalik. Mereka terus beristigfar sambil terisak. “Kalau begitu saya turunkan menjadi masing-masing 500 juta saja,” tegasnya kembali.
Sesampai di depan ayah dan ibunya, Ram berdir sejenak. Ram menarik nafas dalam-dalam, “saya tahu di antara kalian tidak ada yang mampu membeli orang tua saya, orang tua saya tidak bisa dibeli dengan uang, Abi dan Ummi saya sangat sangat jauh lebih berharga dari semua kemegahan yang ada di ruangan ini,” Ram berlutut di depan orang tuanya lalu mencium kaki mereka. Ram meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Mereka saling berpelukan. Kedua adiknya mengikuti.
Ram merangkul kedua orang tuanya dan mengajak mereka meninggalkan pesta megah itu. Ia tahu ini saatnya memutuskan satu hal yang telah lama mengganjal pikirannya. Cinta itu didasari saling menyukai tanpa syarat. Pernikahan bukan perkawinan antara dua orang saja, akan tetapi pertalian antara dua keluarga yang saling menerima kekurangan. Ia memutuskan meninggalkan pekerjaan yang merenggut cinta orang tuanya. Sekarang giliran Nuri Puan Marwani yang terisak.

Sekian

Cerpen ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Senin, 14 September 2015

Sisi Feminis Alwy Rachman


[alwykoran.jpg]
Alwy Rachman


Alwy Rachman seperti ibu yang tahu anaknya menderita hanya dengan sekali tatapan. Hanya seorang ibu yang mampu melakukan itu. Dan lambat laun si anak akan percaya padanya. Menceploskan keresahan dirinya, ibarat seorang gadis sedang curhat kepada teman gadisnya. Lupa bahwa di hadapannya adalah seorang yang baru dikenalnya, tapi entah mengapa begitu lekat dengannya.

Bayi yang baru lahir hendak mencari ibu susu untuk menancapkan kekebalan di tubuhnya. Alwy Racman siap menyusuinya, memberikan gizi terbaik, pandangan baru tentang dunia dan hakikat hidup. Bagaimana seseorang mesti memiliki pondasi kuat di akal pikirannya. Sebab akal pikiran inilah yang akan mengantarkan seseorang menentukan eksistensinya. Hitam atau putih.

“Hei Gadis” atau “Hei Ladies” ucapnya acap kali bertemu denganku, kedengarannya tetap seperti Lady. Saya tahu dua kata sapaan itu juga popular bagi yang lain. Tapi itu bukan sekadar sapaan, di dalamnya terkandung kedekatan. Tengok kebiasaan rakyat Inggris, menyebut Lady di depan nama seorang perempuan, itu sapaan bagi ratu atau putri. Yah, perempuan bangsawan. Sapaan penghormatan. Seorang Alwy Rachman sangat menghargai dan menghormati perempuan. Makanya setiap perempuan adalah Lady baginya. Namun khusus bagi saya, sapaan itu sangat feminis. Seolah kita pernah dan akan membuka diskusi panjang tentang dunia dari perspektif perempuan.

Dalam forum diskusi tentang perempuan, Alwy Rachman kerap menyontohkan bagaimana kebijakan pemerintah di Timur Tengah sana mewajibkan orang tua khususnya calon ibu untuk belajar menjadi ibu. Kodrat biologis perempuan melahirkan dan menyusui tak terelakkan. Bayi yang baru keluar dari rahim akan didekatkan kepada ibunya untuk menetek, Kak Alwy bilang di situlah bahasa ibu berawal. Bahasa hanya antara Ibu dan bayinya. Makanya Kak Alwy selalu mengingatkan kita (perempuan) untuk siap menjadi IBU.

Dan sekarang wajah Kak Alwy seperti ibu yang GELISAH ingin pamit.Lebih berbinar, berenergi menyusui bayi-bayi bahkan sebelum mereka lahir. Lewat tulisan-tulisannya yang berjejaring.
                                 

Senin, 12 Januari 2015

Kado di Ujung Hari

Hmmmm…

Kamu dan saya melalui waktu yang tidak sebentar. Waktu bukan sekadar menghitung berapa jam, berapa hari, berapa bulan atau berapa tahun. Waktu kita dilengkapi oleh ruang, ruang yang punya banyak rongga, setiap rongga berisi cerita dan saya juga kawan-kawan kita mengisi banyak rongga itu, tentang sedih juga bahagia. Rongga itu bahkan saling berdempetan (di rumah kecil kita di kampus) dan tak punya kesempatan untuk menyembunyikan apapun di antara kita. Tentang gaya tidurmu, jenis bedakmu, alat mandimu, obat herbal yang sering kau bagi, buku diary yang kamu letakkan dimana saja sehingga kami bisa dengan bebas memabacanya, atau diriku merengek untuk makan coto tengah malam. Itulah persahabatan kita Lin.

Sahabatku Adlin,
Semua orang memang merasa dekat padamu. Kamu memberi energi dan orang-orang menyerap energi melebihi yang kau beri. Sebab dirimu tanpa pamrih atau mungkin tanpa sadar melakukannya. Kamu melakukan tanpa membeda, memberi tanpa meminta. Yah, kamu melakukan halhal membahagiakan bagi orang-orang di sekitarmu. Bagimu, setiap gerakmu mesti membuat dirimu berguna. Sehingga sosokmu terasa melekat di hati setiap orang yang mengenalmu.
Tahun lalu, kamu meminta kepada siapapun untuk menulis apapun tentang dirimu sebagai kado di hari ulang tahunmu, termasuk padaku. Lalu saya mengatakan bahwa tidak akan menulis kepada orang yang meminta dirinya ditulis. Sadis. Tapi lebih dari itu, kamu ini spesial dan unik Lin. Saya juga ingin memperlakukanmu demikian. Melakukan hal yang tidak banyak dilakukan. Saya memberimu dengan menunda. Kamu mungkin kecewa sebab di antara kita tak ada yang memberi tulisan, tapi hari inilah kado itu. Kado yang berada di ujung  hari. Hadiah yang sudah terpikir saban waktu. Cerita sederhana tentang kita.

Ingatkah kamu, ketika saya memercayakan cerita tentang orang yang saya sukai? Sebuah pertanyaan bodoh, sebab kisah ini tak mungkin kamu lupakan, cerita ini berada di bagian rongga yang agak besar. Orang-orang di sekeliling menilai kita saling menusuk (pasti kamu sudah mulai senyum-senyum). Yah, memang ini kisah terlucu yang pernah kita lalui. Waktu itu, saya ingin marah padamu namun tak pernah terjadi, karena kamu  adalah Adlin si manja. Kamu memanggilku untuk membicarakannya, mengucapkan kalimat-kalimat manja padaku. Mungkin kamu tak sadar melakukannya, tapi bagiku, kamu berubah jadi sangat manja. Saat itu, sepertinya kamu telah menjadi penyihir. Yah, kamu membuat saya menyayangi persahabatan kita melebihi rasa sukaku padanya.

Lina…
(kusebut sebab kamu tak suka nama itu, tapi sayang saya menganggapmu perempuan tulen)

Kamu memang menjadi perempuan kuat. Membuat mata laki-laki menjadi iri dengan maskulinmu. Power itu kamu benihkan  lalu tertebar kepada siapa saja. Menginsipirasi banyak perempuan untuk membongkar dogma tradisional dalam budaya kita. Memahat dengan cantik model perempuan masa kini. Kamu adalah simbol perempuan nusantara. Perempuan yang mencintai nusantara kita dengan ragamu. Mengenalkan keindahan dan kekayaan negara kita dengan cara sederhana namun bisa mengetuk hati siapa saja.

Di sisi lain, kemanjaanmu tak dapat kamu sembunyikan. Ketika bertemu bunda lalu memeluknya, atau merengek dibelikan jajanan seperti anak kecil. Tapi karena keberanianmu menjadi diri sendiri membuat orang berbalik manja padamu. Sehingga kamu dan setiap orang bisa saling bermanja-manjaan.

Akh, cerita ini tidak akan habis kawan…takkan pernah habis…
Sekali lagi saya ingin mengatakan kamu ini spesial dan unik. Teruslah…teruslah demikian kawan. Persahabatan polos kita, jangan pernah berubah dimakan usia, ruang, dan waktu.


_Ria_

Senin, 22 September 2014

Antara Manusia, Alam, dan Avatar

Tumbuhan dimakan oleh belalang, belalang dimakan oleh burung kecil, lalu burung kecil dimakan oleh elang, dan beberapa jenis burung dimakan oleh manusia. Manusia menjadi konsumen tertinggi di dalam rantai makanan. Demikian salah satu contoh rantai makanan yang sering kita temui di pelajaran Biologi. Pelajaran ini memberitahukan bahwa betapa besar keterhubungan antara makhluk hidup di alam sekitar kita.
Keterhubungan antar manusia dan alam sekitar
(Foto:http://mrwahid.files.wordpress.com/2013/11/rantai_makanan.gif)
Betul riset ilmu psikologi menyatakan bahwa keterhubungan antara manusia dan manusia menstimulus rasa aman dan membangun sebuah ruang psikologi sebagai bagian dari sesuatu lebih besar dari kita sendiri. Kita akan selalu merasa mendapatkan dukungan dari hubungan yang terbangun di sekitar kita. Nah berangkat dari kalimat terakhir, di dalam tulisan ini saya tidak membahas keterhubungan antara manusia dan manusia saja, akan tetapi hubungan yang terbangun di sekitar kita dalam artian hubungan manusia dan alam.
Pembahasan keterhubungan antara manusia dan alam bukan hal yang baru, namun berangkat dari tema lomba ini yakni “connected” membuat saya tertantang membagi sedikit pengalaman kecil saya sehari-hari yang hobbi nonton film animasi dan jalan-jalan ke tempat hiburan alam.
Menjaga alam menjadi pembahasan penting di dunia internasional. Kita sering mendengar slogan berbunyi back to nature (kembali ke alam). Bagaimana tidak, keseimbangan bumi hanya bisa terjaga jika manusia menjaga hubungannya dengan alam. Saya garis tebal kata balance (keseimbangan) yang berarti bahwa sebelum era teknologi berkembang, kehidupan manusia dituntut tergantung dengan alam. Karena ketergantungan itulah sehingga orang-orang terdahulu sangat piawai menjaga alam sekitar. Dan karena menjaga keseimbangan alam itulah sehingga manusia menjaga hubungannya dengan manusia lain.
Saya jadi teringat pengalaman masa kecil di daerahku Sidenreng Rappang. Ketika memasuki masa menanam padi, para tetangga wanita berbondong-bondong ke rumah nenek untuk menyiapkan kue yang akan di bawa ke bonging (tempat terjauh di daerah persawahan). Sedangkan para lelaki menyiapkan diri dengan berganti pakaian siap tempur di medan lumpur.
Suasana riang, canda dan calla (bergurau) terdengar di sepanjang jalan dengan jarak tempuh sekitar sepuluh kilometer berjalan kaki. Meski panas matahari sudah di ubun-ubun tak menyurutkan niat mereka untuk sampai di bonging. Sesampai di sana, tanpa aba-aba para lelaki mengambil bibit padi untuk di tanam di sawah. Lumpur selutut tak menjadi penghalang bagi mereka. Ketika selesai dan tiba waktu makan siang, para wanita menyiapkan santapan untuk para lelaki, lalu mencuci piring-piring di parit kecil yang airnya jernih. Sisa makanan menjadi santapan ikan-ikan kecil di parit itu.
Suasana itu menjadi memori indah yang pernah saya lalui. Di desa nenek saya, menanam padi dilakukan secara bergantian, mungkin mereka telah mengadakan rapat informal di tengah lahan sawah mengenai penjadwalan menanam padi di lahan masing-masing. Mengikuti jadwal tersebut, para tetangga sudah paham untuk bergantian menjadi tuan rumah menyiapkan bekal. Suasana gotong-royong membantu menanam padi menjadi pemandangan lumrah sebab dari padilah kehidupan mereka berlansung. Anda bisa membayangkan bagaimana mereka saling berbagi aliran air ke petak-petak sawah atau jika terjadi kemarau lalu mereka bergotong royong membuat irigasi buatan. Sebab dari alam mereka banyak belajar tentang intisari kehidupan untuk menjaga keterhubungan antarmanusia.
Salah satu adegan film Avatar
(Foto:http://images3.alphacoders.com/795/79587.jpg)
Berbicara tentang alam memang sangat luas cakupannya. Entah itu hutan, lautan, pegunungan, atau di lingkungan persawahan. Namun hal pokok yang tidak bisa dilupakan ialah keterhubungan manusia dan manusia terjadi karena adanya energi dari alam sekitar. Energi tersebut diperoleh dengan sadar dan tidak sadar. Energi keterhubungan yang diperoleh dari ketidaksadaran bisa dilihat dari peristiwa yang saya tulis di atas, keterhubungan itu terjadi secara alami. Sedangkan energi alam yang diperoleh karena kesadaran biasanya dilakukan dengan sengaja misalanya berlibur di pantai, di tempat permandian air terjun, atau para pencinta alam yang doyan naik gunung. Kita melakukan itu karena ingin mendapat energi dari alam. Sebab dekat dengan alam memberi kita rasa aman dan kebahagiaan. Sebab dari alamlah kita belajar tentang nilai-nilai kehidupan.
Benar yang tercerita di film Avatar. Film ini berkisah tentang bagaimana menjaga alam demi kelansungan kehidupan makhluk di dalamnya termasuk manusia. Dimana manusia dituntun untuk lebih memerhatikan alam daripada kepentingan percobaan kimiawi. Alam seakan-akan menaruh puncak harapan kepada manusia sebagai makhluk berfikir untuk menjaga mereka. Manusia adalah avatar sang penjaga keseimbangan.
Manusia adalah sang penjaga keseimbangan
(Foto: http://cdn.fansided.com/wp-content/blogs.dir/277/files/2013/10/avatar-land-walt-disney-world-1.jpg)

Konsep Edukasi-Hiburan ala TSM

Peragaan busana musim semi di TSM (Foto: Firga)
Kala saya magang di sebuah koran lokal Makassar tempo lalu, saya sering mendapat liputan di Trans Studio Mall. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa hampir setiap minggu TSM mengadakan even-even bagus. Even yang menggunakan konsep hiburan-edukasi. Baik tradisional maupun internasional.
Misalnya, pada bulan April lalu ada peragaan busana bertajuk musim semi. Mungkin terkesan glamor namun konsepnya memberikan pelajaran bahwa di masa Yunani Kuno, pakaian yang digunakan disesuaikan dengan kondisi alam. Masa Yunani kuno, penduduk Yunani akan mengadakan pesta pergantian musim dan mengenakan pakaian yang lebih santai. Panggung pun ditata ala Yunani Kuno. Sepanjang mata memandang kita akan menemukan warna serba hijau. Di panggung itu pun, sejumlah batang besar dibuat melengkung setengah lingkaran. Batang hijau itu dililit bunga-bunga berwarna-warni. Bunga itu disorot lampu senada dengan warna bunganya.

Dua sahabat lama Wawan (pihak TSM) dan Firga (Fotografer)
tak sengaja bertemu di TSM (Foto:Satriani M)
Pada bulan Maret lalu, di Theme Park Makassar juga ada kegiatan tentang heritage bangunan tradisional Sulawesi Selatan seperti Toraja, Luwu, Wajo, Sinjai, Bone, dan Gowa. Pada kegiatan seminar itu diceritakan tentang filosofi bangunan-bangunan tradisional. Saat itu, Adang Surjana, staf ahli Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar mengatakan bahwa pada dasarnya kosmologi rumah tradisional Bugis-Makassar hampir sama disesuaikan dengan alam sekitar yakni ruangan terdiri atas tiga susun.
“Rakkeang bagian atap mencerminkan botting langi_kehidupan atas, watang pola_ruang tengah atau ale kawa mencerminkan kehidupan di bumi, dan awa bola_bagian bawah rumah atau buri liung berlantai tanah tempat menyimpan alat-alat pertanian, memelihara ternak, anak-anak bermain, orang bertenun, dan sebagainya,” kata Adang.
Even-even seperti ini bisa memberikan pengetahuan baru bagi para pengunjung di TSM dan Theme Park Makassar. Bahwa manusia dan alam itu saling terhubung. Mungkin kegiatan bertajuk seperti ini bisa sering dilakukan oleh pihak TSM. Apalagi jika dikemas secara total dan disosialisasikan secara besar-besaran.
Kenapa orang-orang ingin berlibur di tempat alam seperti di leang-leang Kabupaten Pangkep, pemandangan batu kars di Kabupaten Maros, permandian air terjun di Bantimurung Kab. Maros, Pantai Bira di Kab.Bulukumba, atau para pencinta alam yang doyan naik gunung? Sebab itu tadi,  alam sangat berhubungan dengan manusia, alam memberikan energi besar bagi pengunjungnya.
Mungkin Theme Park Makassar bisa membuat tempat liburan alam seperti pantai, sungai, atau air terjun, orang-orang tak perlu jauh-jauh liburan ke permandian alam di berbagai daerah. Cukup satu tempat untuk semua suasana alam. Jika ada yang berfikir bahwa rasanya tidak akan sama antara buatan dan aslinya, maka jangan lupa teori mimesis yang dikeluarkan oleh Plato. Bahwa tiruan itu bisa jauh lebih indah daripada aslinya.





””

Kamis, 23 Februari 2012

Kompetisi web kompas muda dan pertamina

Kompetisi web kompas muda dan pertamina adalah ajang kompetisi yang diselenggarakan kompas muda dalam rangka hari ulang tahunnya. jutaa rupiah hadiah akang dibagi kepada juara pertama hingga juara tiga

Untuk Bumi Ikut Lomba Kompetisi Web Kompas Muda dan Pertamina

Dalam rangka ulang tahun yang ke empat, Kompas muDA menyelenggarakan beberapa kompetisi. Ada kompetisi foto, kompetisi menulis, kompetisi musik, kompetisi komik dan kompetisi web. Diantara kompetisi kompetisi yang ada, saya akan mengikuti kompetisi web.

Mengapa kompetisi web. Karena saya tertarik dengan web. Sederhana saja. Tak ada yang neko neko. Semua kembali pada passion masing masing.

Karena syarat kompetisinya mesti harus peringkat 1 versi google. Jadi mesti banyak persiapan. Kalau mau menang, tak cukup memiliki postingan tulisan yang bagus. Tapi juga harus membuat tulisan agar bisa nomor satu di google. Ini terbilang tak mudah bagi blogger pemula seperti saya. Tapi dicoba tak mengapa.

Sebelum melakukan posting. Mesti belajar terlebih dahulu bagaimana cara agar postingan bisa duduk di tahta no 1 google. Yang jadi masalah, tak ada penjelasan yang signifikan yang saya peroleh. Jadi nampaknya jalan itu akan sulit.

Beberapa perubahan pada blog ogiecellaoloa. Perubahan ini dalam rangka berbenah. dan menyesuaikan dengan tema yang ada. Untuk bumi dipilih sebagai nama. Karena tema yang dilombakan terkait dengan unsur bumi. Konsep template yang bernuansa green itu juga menyesuaikan dengan tema kompetisi web kompas muda dan pertamina.

Semoga saja membuahkan hasil..
salam.